Kanopi Tahan Angin: Pilihan Tepat untuk Rumah di Daerah Berangin



Kanopi adalah elemen penting dalam melindungi rumah, baik dari panas matahari, hujan, maupun angin kencang. Di daerah yang sering menghadapi cuaca ekstrem, seperti angin kencang atau badai, memilih kanopi yang tahan angin menjadi prioritas utama. Kanopi yang tepat tidak hanya melindungi rumah tetapi juga memberikan kenyamanan dan keamanan ekstra.

Artikel ini akan membahas bagaimana memilih kanopi tahan angin, jenis material yang kuat di segala cuaca, serta tips memilih rangka kanopi yang kokoh. Dengan panduan ini, Anda dapat memastikan kanopi rumah Anda mampu bertahan dalam berbagai kondisi cuaca.


Pentingnya Memilih Kanopi Tahan Angin

Angin kencang sering kali menjadi ancaman bagi struktur rumah yang kurang kokoh, termasuk kanopi. Jika tidak dipilih dan dipasang dengan benar, kanopi dapat roboh, lepas dari rangka, atau bahkan menjadi bahaya bagi penghuni rumah. Berikut adalah beberapa alasan mengapa kanopi kuat di segala cuaca menjadi kebutuhan:

1. Perlindungan Maksimal dari Cuaca Ekstrem

Kanopi tahan angin mampu memberikan perlindungan optimal bagi area di bawahnya, seperti carport, teras, atau taman. Dengan struktur yang kuat, Anda tidak perlu khawatir kanopi rusak akibat tiupan angin kencang.

2. Keamanan bagi Penghuni Rumah

Kanopi yang tidak tahan angin bisa menjadi bahaya, terutama jika materialnya ringan atau pemasangannya tidak sesuai standar. Memilih kanopi dengan desain dan material yang tepat dapat mencegah risiko kecelakaan.

3. Investasi Jangka Panjang

Kanopi tahan angin biasanya menggunakan material berkualitas tinggi dan pemasangan profesional, sehingga lebih tahan lama. Meskipun harganya mungkin sedikit lebih mahal, kanopi ini adalah investasi yang menghemat biaya perbaikan di masa depan.


Jenis Material Kanopi yang Tahan Angin

Untuk memastikan kanopi rumah Anda kuat di segala cuaca, pemilihan material menjadi kunci utama. Berikut adalah beberapa jenis material yang direkomendasikan:

1. Kanopi Baja Ringan

Material baja ringan terkenal karena kekuatannya yang tinggi dan bobotnya yang ringan. Baja ringan juga tahan terhadap korosi, sehingga cocok untuk digunakan di daerah dengan curah hujan tinggi atau angin kencang. Kombinasikan baja ringan dengan material atap yang kokoh seperti polycarbonate untuk hasil terbaik.

2. Kanopi Besi Galvanis

Besi galvanis memiliki ketahanan luar biasa terhadap beban angin dan cuaca ekstrem. Dengan perawatan yang baik, material ini dapat bertahan selama bertahun-tahun tanpa mengalami karat atau kerusakan struktural.

3. Kanopi Polycarbonate

Polycarbonate adalah material atap yang ringan tetapi sangat kuat. Material ini tahan terhadap tekanan angin, panas, dan hujan, menjadikannya pilihan ideal untuk kanopi tahan angin.

4. Kanopi Kaca Tempered

Meskipun terlihat rapuh, kaca tempered sebenarnya memiliki kekuatan yang sangat tinggi dan tahan terhadap angin. Pastikan kaca tempered dipasang pada rangka yang kokoh untuk memberikan perlindungan maksimal.

5. Kanopi PVC

Material PVC juga bisa menjadi pilihan untuk kanopi tahan angin, terutama karena sifatnya yang ringan namun fleksibel. Material ini mampu menahan tekanan angin jika dipasang dengan rangka yang kuat.


Tips Memilih Rangka Kanopi yang Kokoh

Rangka adalah bagian utama yang menentukan kekuatan dan daya tahan kanopi, terutama terhadap angin kencang. Berikut adalah beberapa tips untuk memilih rangka kanopi yang kuat:

1. Gunakan Material Berkualitas Tinggi

Pilih rangka dari bahan baja ringan, besi galvanis, atau aluminium. Material ini memiliki ketahanan yang baik terhadap tekanan angin dan tidak mudah rusak akibat cuaca.

2. Pilih Desain yang Aerodinamis

Kanopi dengan desain aerodinamis lebih mampu menahan tekanan angin karena bentuknya meminimalkan hambatan udara. Hindari desain yang terlalu datar karena lebih rentan terkena dorongan angin.

3. Pastikan Sambungan Kuat

Sambungan antarbagian rangka harus dipastikan rapat dan kokoh. Gunakan baut atau mur berkualitas tinggi untuk menghindari longgarnya struktur akibat tekanan angin.

4. Perhatikan Sistem Pondasi

Rangka kanopi harus dipasang pada pondasi yang kuat, baik itu di dinding rumah maupun di tiang penyangga. Pondasi yang kurang kokoh bisa menyebabkan rangka roboh saat diterpa angin kencang.

5. Konsultasikan dengan Ahli

Jasa pemasangan profesional biasanya memiliki pengalaman dalam membuat kanopi tahan angin. Mereka dapat membantu Anda memilih rangka yang sesuai dengan kondisi lingkungan rumah.


Inspirasi Desain Kanopi Tahan Angin

Kanopi tahan angin tidak selalu harus terlihat kaku atau monoton. Dengan desain yang tepat, Anda bisa mendapatkan kanopi yang kuat sekaligus estetis. Berikut beberapa inspirasi desain yang dapat Anda pertimbangkan:

1. Kanopi Minimalis Modern

Desain minimalis dengan rangka baja ringan atau besi galvanis cocok untuk rumah modern. Padukan dengan atap polycarbonate untuk tampilan yang sederhana namun elegan.

2. Kanopi Melengkung Aerodinamis

Bentuk melengkung tidak hanya memberikan tampilan unik tetapi juga lebih tahan terhadap angin. Desain ini cocok untuk carport atau area taman.

3. Kanopi dengan Tiang Penyangga Tambahan

Untuk area yang sangat terbuka dan rentan terkena angin, tambahkan tiang penyangga tambahan agar struktur kanopi lebih kokoh.

4. Kanopi Kaca Transparan

Kanopi dengan atap kaca tempered memberikan kesan mewah pada rumah. Kombinasikan dengan rangka aluminium untuk kekuatan maksimal.


Langkah-Langkah Pemasangan Kanopi Tahan Angin

Untuk mendapatkan kanopi yang benar-benar tahan angin, proses pemasangannya harus dilakukan dengan cermat. Berikut adalah langkah-langkah yang biasa dilakukan oleh penyedia jasa profesional:

  1. Pengukuran dan Desain
    Tahap ini melibatkan pengukuran area pemasangan dan pembuatan desain kanopi sesuai kebutuhan dan kondisi lingkungan.

  2. Pemilihan Material
    Material dipilih berdasarkan anggaran dan kebutuhan, dengan fokus pada kekuatan dan daya tahan terhadap angin.

  3. Pembuatan Rangka
    Rangka dibuat sesuai desain yang telah disepakati. Proses ini mencakup pemotongan, pengelasan, dan pemasangan sambungan.

  4. Pemasangan Atap
    Atap dipasang dengan menggunakan baut atau pengikat yang kokoh untuk memastikan tidak mudah lepas.

  5. Pemeriksaan dan Finishing
    Setelah pemasangan selesai, dilakukan pemeriksaan untuk memastikan semua bagian terpasang dengan baik. Tahap finishing dilakukan untuk memberikan hasil akhir yang rapi dan estetis.


Keuntungan Menggunakan Jasa Pemasangan Profesional

Memasang kanopi tahan angin memerlukan keahlian khusus untuk memastikan struktur aman dan tahan lama. Berikut adalah keuntungan menggunakan jasa pemasangan profesional:

  • Hasil pekerjaan lebih rapi dan kuat.
  • Konsultasi desain dan material yang sesuai dengan kebutuhan rumah Anda.
  • Proses pemasangan lebih cepat dan efisien.
  • Dilengkapi dengan garansi untuk memberikan rasa tenang jika terjadi masalah di kemudian hari.

Kesimpulan

Memilih kanopi tahan angin adalah langkah bijak untuk melindungi rumah Anda dari cuaca ekstrem, terutama di daerah yang sering mengalami angin kencang. Dengan material yang kuat seperti baja ringan, besi galvanis, atau polycarbonate, serta rangka yang kokoh, Anda dapat memastikan kanopi bertahan lama dan aman.

Jangan lupa untuk menggunakan jasa pemasangan profesional agar hasilnya maksimal dan sesuai harapan. Dengan memilih kanopi yang tepat, rumah Anda tidak hanya terlindungi tetapi juga terlihat lebih indah dan modern.

..




Kanopi minimalis


 

Kanopi Minimalis: Pilihan Tepat untuk Rumah Modern

Kanopi minimalis kini menjadi tren yang semakin diminati oleh banyak pemilik rumah, terutama mereka yang menginginkan perlindungan sekaligus estetika untuk hunian mereka. Diana, seorang pemilik rumah baru, adalah salah satu dari mereka yang menemukan bahwa kanopi minimalis tidak hanya berfungsi sebagai pelindung, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi rumahnya.


Di pagi yang cerah, Diana berdiri di depan rumah mungilnya. Rumah ini adalah hasil kerja keras bertahun-tahun, dan hampir sempurna. Namun, ada satu hal yang mengganjal pikirannya: teras depan rumahnya yang kosong. Ketika hujan turun, air mudah masuk ke lantai keramik. Di siang hari, panas matahari menyilaukan siapa pun yang mencoba duduk di teras.

โ€œAku butuh kanopi minimalis,โ€ gumamnya sambil memandangi halaman depan.

Kanopi minimalis memang menjadi solusi yang sempurna untuk masalah ini. Dengan desain yang sederhana namun elegan, kanopi jenis ini cocok untuk rumah-rumah modern. Diana memutuskan untuk mencari referensi lebih jauh. Ia membuka laptopnya dan mengetik kata kunci, "kanopi minimalis terbaru."

Layar laptopnya menampilkan banyak sekali pilihan. Beberapa kanopi terlihat sederhana, dengan garis-garis lurus dan warna netral seperti hitam atau putih. Sementara itu, ada juga kanopi dengan sentuhan mewah, memadukan material kaca, baja ringan, dan kayu.

"Ini dia yang aku cari," pikir Diana sambil mengklik desain favoritnya: sebuah kanopi minimalis dengan rangka aluminium hitam dan atap kaca transparan. Desain ini terlihat sangat cocok dengan konsep rumahnya yang modern.


Diana segera menghubungi penyedia jasa pemasangan kanopi. Pak Rian, salah satu penyedia yang berpengalaman, menjawab teleponnya dengan ramah.

โ€œKami punya banyak pilihan kanopi minimalis, Bu Diana. Kalau boleh tahu, seperti apa konsep rumah Ibu?โ€ tanya Pak Rian.

Diana menjelaskan bahwa ia menginginkan kanopi yang sederhana namun tetap elegan, sesuai dengan gaya rumahnya yang modern. Pak Rian merekomendasikan penggunaan rangka aluminium dengan atap kaca laminasi. Material ini tidak hanya kuat, tetapi juga memberikan tampilan yang sangat menarik.

โ€œDesain ini sangat populer untuk rumah minimalis, Bu. Selain tahan lama, atap kaca laminasi juga aman karena jika pecah, serpihannya tidak berbahaya,โ€ jelas Pak Rian.

Diana menyetujui rekomendasi tersebut dan mengatur jadwal pemasangan.


Pemasangan kanopi minimalis pun dimulai. Suara mesin bor dan palu memenuhi halaman depan rumah Diana. Dalam waktu sehari, kanopi baru itu selesai dipasang. Hasilnya melebihi ekspektasi Diana. Rangka hitam aluminium kontras dengan dinding putih rumahnya, sementara atap kacanya memantulkan langit biru yang cerah.

โ€œSesuai harapan, Bu?โ€ tanya Pak Rian.

โ€œLebih dari yang saya bayangkan. Terima kasih, Pak Rian,โ€ jawab Diana dengan senyuman puas.

Hari-hari berikutnya, kanopi minimalis ini menjadi bagian favorit dari rumah Diana. Selain memberikan perlindungan dari hujan dan panas, kanopi ini juga mempercantik rumahnya. Tetangga Diana, Bu Lina, bahkan datang berkunjung dan memuji pilihan kanopinya.

โ€œDiana, kanopi ini membuat rumahmu terlihat lebih cantik. Aku jadi ingin memasang kanopi juga,โ€ kata Bu Lina sambil tertawa.

Diana hanya tersenyum. Ia tahu bahwa keputusannya untuk memasang kanopi minimalis adalah langkah yang tepat.


Manfaat Kanopi Minimalis

Kanopi minimalis tidak hanya menjadi pelindung dari cuaca ekstrem, tetapi juga memiliki banyak manfaat lain:

  1. Estetika yang Elegan Dengan desain yang sederhana dan modern, kanopi minimalis dapat meningkatkan tampilan rumah. Rangka yang ramping dan material berkualitas seperti aluminium dan kaca memberikan kesan mewah.

  2. Perlindungan Optimal Kanopi minimalis melindungi teras dari hujan dan panas matahari, sehingga area depan rumah tetap nyaman digunakan.

  3. Tahan Lama Material seperti aluminium dan kaca laminasi dikenal tahan lama dan tidak memerlukan perawatan yang rumit.

  4. Fleksibel untuk Berbagai Gaya Rumah Kanopi minimalis cocok untuk berbagai konsep rumah, mulai dari modern, industrial, hingga skandinavia.


Diana mulai menyadari manfaat lain dari kanopinya setelah beberapa bulan. Di musim hujan, ia tidak perlu lagi khawatir lantai terasnya basah. Di siang hari, bayangan dari kanopi memberikan kesejukan tanpa menghalangi cahaya alami masuk ke rumah. Bahkan, ia memasang lampu gantung kecil di bawah kanopi untuk menciptakan suasana yang hangat di malam hari.

Kanopi minimalis ini juga menjadi saksi momen-momen indah dalam hidup Diana. Misalnya, saat ia mengadakan pesta kecil dengan teman-temannya, atau ketika keponakannya bermain hujan-hujanan sambil berlindung di bawah kanopi.

โ€œAku tidak pernah menyangka, sesuatu yang sederhana seperti kanopi minimalis bisa memberikan banyak kebahagiaan,โ€ pikir Diana sambil memandangi hujan yang turun perlahan di sore hari.


Kanopi minimalis bukan sekadar tambahan untuk rumah. Bagi Diana, kanopi ini adalah simbol kenyamanan dan kebahagiaan yang ia temukan di rumah barunya. Jika Anda sedang mencari cara untuk melindungi sekaligus mempercantik rumah Anda, kanopi minimalis bisa menjadi pilihan terbaik. Dengan desain yang modern, material berkualitas, dan manfaat yang beragam, kanopi minimalis adalah investasi yang akan membuat rumah Anda semakin istimewa.

DAFTAR ISI untuk BUDIDAYA IKAN

DAFTAR ISI untuk BUDIDAYA IKAN

JILID 1
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
SINOPSIS
PETA KOMPETENSI
BAB I PENDAHULUAN 
BAB II WADAH BUDIDAYA IKAN 
2.1. JENIS-JENIS WADAH BUDIDAYA IKAN 
2.2. KONSTRUKSI WADAH BUDIDAYA
2.3. PERSIAPAN WADAH BUDIDAYA
BAB III MEDIA BUDIDAYA IKAN 
3.1. SUMBER AIR 
3.2. PARAMETER KUALITAS AIR
3.3. PENGUKURAN KUALITAS AIR BUDIDAYA IKAN 
BAB IV. PENGEMBANGBIAKAN IKAN
4.1. SELEKSI INDUK
4.2. TEKNIK PEMIJAHAN IKAN
4.3 PENETASAN TELUR
4. 4. PEMELIHARAAN LARVA DAN BENIH IKAN
4.5. PEMBESARAN IKAN
4.6. PEMANENAN

JILID 2
BAB V. NUTRISI IKAN 
5.1. ENERGI
5.2. PROTEIN
5.3. KARBOHIDRAT
5.4. LIPID
5.5. VITAMIN 
5.6. MINERAL
BAB VI. TEKNOLOGI PAKAN BUATAN 
6.1. JENIS-JENIS BAHAN BAKU 
6.2. PENYUSUNAN FORMULASI PAKAN
6.3 PROSEDUR PEMBUATAN PAKAN
6.4. UJI COBA PAKAN IKAN
6.5. MANAJEMEN PEMBERIAN PAKAN
6.6 PAKAN DAN KUALITAS AIR
BAB VII. TEKNOLOGI PRODUKSI PAKAN ALAMI 
7.1. JENIS-JENIS PAKAN ALAMI 
7.2. BUDIDAYA PHYTOPLANKTON
7.3. BUDIDAYA ZOOPLANKTON 
7.4. BUDIDAYA BENTHOS 
7.5. BIOENKAPSULASI

JILID 3
BAB VIII. HAMA DAN PENYAKIT IKAN
8.1. JENIS-JENIS HAMA DAN PENYAKIT
8.2. PENCEGAHAN HAMA DAN PENYAKIT IKAN
8.3. GEJALA SERANGAN PENYAKIT 
8.4. PENGOBATAN PENYAKIT IKAN
BAB. IX. PEMASARAN 
9.1. PENGERTIAN PEMASARAN
9.2. CIRI-CIRI PEMASARAN HASIL PERIKANAN
9.3. PERENCANAAN DAN TARGET PENJUALAN 
9.4. ESTIMASI HARGA JUAL
9.5. SISTEM PENJUALAN 
9.6. STRATEGI PROMOSI 
BAB. X. ANALISA KELAYAKAN USAHA BUDIDAYA IKAN
10.1. PENGERTIAN STUDI KELAYAKAN 
10.2. NET PRESENT VALUE (NPV) 
10.3. NET BENEFIT COST RATIO (NBC RATIO). 
10.4. INTERNAL RATE OF RETURN (IRR) 
10.5. ANALISIS BREAK EVENT POINT (BEP) 
10.6. APLIKASI ANALISA USAHA 
BAB. XI. KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA
11.1. PENGERTIAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3)487
11.2. PENERAPAN KAIDAH K3 PADA DUNIA USAHA PERIKANAN BUDIDAYA 
LAMPIRAN A DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN B GLOSARIUM


DAFTAR ISI untuk BUDIDAYA IKAN
DAFTAR PUSTAKA untuk BUDIDAYA IKAN
GLOSARI untuk BUDIDAYA IKAN
DAFTAR GAMBAR untuk BUDIDAYA IKAN
DAFTAR TABEL untuk BUDIDAYA IKAN
Selengkapnya tentang Budidaya Ikan klik disini

GLOSARI untuk BUDIDAYA IKAN


Adenohipofisa : salah satu bagian dari kelenjar hipofisa yang mengandung sel-sel pensekresi hormon prolaktin, hormon Adrenocorticotropic (ACTH), hormon pelepas tiroid (Thyroid Stimulating Hormone), hormon pertumbuhan (STHSomatotropin) dan Gonadotropin. Pars intermedia mensekresi hormon pelepas melanosit (Melanocyte Stimulating Hormone).
Adaptasi : Masa penyesuaian suatu organisme dalam lingkungan baru.
Aerasi : Pemberian udara ke dalam air untuk penambahan oksigen
Akrosom : Organel penghujung pada kepala spema yang dikeluarkan yang berfungsi membantu sperma menembus sel telur.
Aksi gen aditif : aksi gen yang mana fenotipe heterosigot merupakan intermedit antara kedua fenotipe homosigot, kedua alel tidak memperlihatkan dominansi, keduanya memberikan konstribusi yang seimbang dalam menghasilkan suatu fenotipe
Aklimatisasi : Penyesuaian fisiologis terhadap perubahan salah satu faktor lingkungan
Albinisme : kondisi genetik yang tidak sempurna yang menyebabkan organisme tidak membentuk pigmen
Alel : Bentuk alternatif suatu gen
Alel dominan : Alel yang diekspresikan secara penuh dalam fenotipe itu
Alel resesif : Alel yang pemunculan fenotipenya ditutupi secara sempurna
Aldehida : Molekul organik dengan gugus karbonil yang terletak pada ujung kerangka karbon
Anabolisme : Pembentukan zat organik kompleks dari yang sederhana, asimilasi zat makanan oleh organisme untuk membangun atau memulihkan jaringan dan bagian-bagian hidup lainnya.
Anadromus : Ikan-ikan yang sebagian besar hidupnya dihabiskan dilaut dan bermigrasi ke air tawar untuk memijah.
Anafase : Tahap mitosis dan meiosis yang mengikuti metafase ketika separuh kromosom atau kromosom homolog memisah dan bergerak ke arah kutub gelendong.
Androgen : Hormon steroid jantan utama, misalnya testoteron
Androgenesis : Proses penjantanan
Antibiotik : Bahan kimiawi yang membunuh bakteri atau menghambat pertumbuhannya.
Antibodi : Imunoglobin pengikat antigen yang dihasilkan oleh sel limfosit B, berfungsi sebagai efektor dalam suatu respon imun.
Antigen : Makromolekul asing yang bukan merupakan bagian dari organisme inang dan yang memicu munculnya respon imun.
Asam amino : Molekul organik yang memiliki gugus karboksil maupun gugus amino. Asam amino berfungsi sebagai monomer protein.
Asam deoksiribonukleat : Suatu molekul asam nukleat berbentuk heliks dan beruntai ganda yang mampu bereplikasi dan menentukan struktur protein sel yang diwariskan.
Asam lemak (fatty acid) : Asam karboksilik dengan rantai karbon panjang. Asam lemak bervariasi panjang dan jumlah dan lokasi ikatan gandanya, tiga asam lemak berikatan dengan satu molekul gliserol akan membentuk lemak.
Asam lemak jenuh (Saturated fatty acid) : Asam lemak dimana semua karbon dalam ekor hidrokarbonnya dihubungkan oleh ikatan tunggal, sehingga memaksimumkan jumlah atom hidrogen yang dapat berikatan dengan kerangka karbon.
Asam lemak tak jenuh (Unsaturated fatty acid) : Asam lemak yang memiliki satu atau lebih ikatan ganda antara karbon-karbon dalam ekor hidrokarbon. Ikatan seperti itu mengurangi jumlah atom hidrogen yang terikat ke kerangka karbon.
Asam nukleat : Suatu polimer yang terdiri atas banyak monomer nukleotida, yang berfungsi sebagai cetak biru untuk protein dan melalui kerja protein, untuk semua aktivitas seluler. Ada dua jenis yaitu DNA dan RNA.
Asam amino essensial : Asam amino yang tidak dapat disintesis sendiri oleh tubuh hewan sehingga harus tersedia dalam makanan.
Aseksual : Perkembangbiakan tidak melalui perkawinan
Autosom : Kromosom yang secara tidak langsung terlibat dalam penentuan jenis kelamin, sebagai kebalikan dari kromosom seks.
Auksospora : Sel-sel yang besar berasal dari perkembangbiakan zigot baru
Backross : Bentuk perkawinan yang sering digunakan dalam pemuliaan yaitu mengawinkan kembali antara anak dan orangtuanya yang sama untuk beberapa generasi.
Basofil : Bersifat menyerap basa.
Benthos : Organisme yang hidup di dasar perairan
Blastomer : Sel-sel anak yang dihasilkan selama pembelahan zygot.
Blastula : Rongga yang terbentuk selama fase pembelahan zigot.
Blastulasi : Proses pembentukan blastula
Biomassa : Bobot kering bahan organik yang terdiri atas sekelompok organisme di dalam suatu habitat tertentu atau bobot seluruh bahan organik pada satuan luas dalam suatu waktu tertentu.
Budidaya : Usaha yang bermanfaat dan memberi hasil, suatu sistem yang digunakan untuk memproduksi sesuatu dibawah kondisi buatan.
Closed Breeding : Perkawinan yang dekat sekali kaitan keluarganya, misalnya antara anak dan tetua atau antara antar saudara sekandung.
Cyste : Fase dorman dari crustacea karena kondisi lingkungan yang tidak sesuai
Dekomposer : Fungi dan bakteri saprotropik yang menyerap nutrien dari materi organik yang tidak hidup seperti bangkai, materi tumbuhan yang telah jatuh dan buangan organisme hidup dan mengubahnya menjadi bentuk anorganik.
Densitas : Jumlah individu persatuan luas atau volume atau masa persatuan volume yang biasanya dihitung dalam gram/cm3 atau jumlah sel/ml.
Deoksiribosa : Komponen gula pada DNA, yang gugus hidroksilnya kurang satu dibandingkan dengan ribosa, komponen gula pada RNA
Detritus : Materi organik yang telah mati atau hancuran bahan organik yang berasal dari proses penguraian secara biologis.
Disipon : Membersihkan badan air dengan mengeluarkan kotoran bersama sebagian jumlah air.
Disucihamakan : Disterilkan dari jasad pengganggu.
Dorsal : Bagian punggung
Diagnosis : Proses pemeriksaan terhadap suatu hal
Diferensiasi gonad : Proses penentuan kelamin dengan pernyataan fenotipe melalui perkembangan alat kelamin dan ciri-ciri kelamin.
Diploid : Keadaan perangkat kromosom bila setiap kromosomnya diwakili dua kali (2n)
Diploidisasi : Penggandaan jumlah kromosom pada sel-sel haploid
Donor : Pemberi sumbangan
Dormant : Telur yang dibuahi dan merupakan dinding tebal dan jika menetas menjadi betina amiktik.
Ekspresi gen : Pengejewantahan bahan genetik pada suatu makhluk hidup sebagai keseluruhan jumlah tabiat yang khas.
Elektroforesis gel : Pemisahan asam nukleat atau protein berdasarkan ukuran dengan cara mengukur laju pergerakkannya melalui suatu medan listrik dalam suatu gel. dan muatan listriknya,
Embriogenesis : Proses perkembangan embrio
Endokrin : Kelenjar/sel yang menghasilkan hormon
Enzim : Molekul protein komplek yang dihasilkan oleh sel dan bekerja sebagai katalisator dalam berbagai proses kimia didalam tubuh makhluk hidup.
Enzim restriksi : Enzim yang digunakan untuk memotong fragmen DNA yang memiliki sekuen tertentu.
Estrogen : Hormon seks steroid betina yang utama.
Eukaryot : Makhluk yang sel-selnya mengandung inti sejati yang diselimuti selaput inti, mengalami meiosis, membelah dengan mitosis dan enzim oksidatifnya dikemas dalam mitokondria.
Fekunditas : Jumlah sel telur yang dihasilkan oleh seekor hewan betina pertahun atau persatuan berat hewan.
Feminisasi : Proses pembetinaan
Fenotipe : Ciri fisik dan fisiologis pada suatu organisme atau sifat yang terlihat pada makhluk hidup yang dihasilkan oleh genotipe bersama-sama dengan faktor lingkungan.
Feromon : Sinyal kimiawi atsiri dan kecil yang berfungsi dalam komunikasi diantara hewan-hewan dan bertindak sangat mirip dengan hormon dalam mempengaruhi fisiologi dan tingkah laku.
Fertilisasi : Penyatuan gamet haploid untuk menghasilkan suatu zigot diploid.
Flagella : Tonjolan berbentuk cambuk pada salah satu sel untuk alat gerak.
Fotosintesis : Pengubahan energi cahaya menjadi energi kimiawi yang disimpan dalam glukosa atau senyawa organik lainnya.
Galur : Pengelompokkan anggota-anggota jenis yang hanya memiliki satu atau sejumput ciri, biasanya bersifat homozigot dan dipertahankan untuk keperluan percobaan genetika.
Gamet : Sel sperma atau telur haploid, gamet menyatu selama reproduksi seksual untuk menghasilkan suatu zigot diploid.
Gastrula : Tahapan pembentukan embrio berlapis dua dan berbentuk piala.
Gastrulasi : Proses pembentukan gastrula dari blastula atau proses pembentukan tiga daun kecambah ektoderm, mesoderm dan endoderm.
Gelendong : Kumpulan mikrotubula yang menyelaraskan pergerakan kromosom selama pembelahan eukariotik.
Gen : Bagian kromosom yang mengatur sifat-sifat keturunan tertentu atau satuan informasi yang terdiri atas suatu urutan nukleotida spesifik dalam DNA.
Generasi F1 : Turunan pertama atau turunan hibrid dalam fertilisasi-silang genetik.
Generasi F2 : Keturunan yang dihasilkan dari perkawinan generasi hibrid F1.
Genom : Komplemen lengkap gen-gen suatu organisme, materi genetik suatu organisme.
Genotipe : Kandungan genetik suatu organisme.
Ginogenesis : Proses perkembangan embrio yang berasal dari telur tanpa kontribusi material genetik jantan
Gonad : Organ seks jantan dan betina, organ penghasil gamet pada sebagian besar hewan.
Gonadotropin : Hormon yang merangsang aktivitas testes dan ovarium.
Haploid : Memiliki jumlah kromosom yang khas untuk gamet makhluknya.
Heritabilitas : Keragaman fenotipe yang diakibatkan oleh aksi genotipe atau menggambarkan tentang persentase keragaman fenotipe yang diwariskan dari induk kepada keturunannya. Dinotasikan dengan huruf h2 dengan nilai berkisar antara 0 โ€“ 1.
Hermaphrodit : Individu yang mempunyai alat kelamin jantan dan betina.
Heliks ganda : Bentuk DNA asli
Haemoglobin : Protein mengandung besi dalam sel darah merah yang berikatan secara reversibel dengan oksigen.
Herbivora : Hewan heterotropik yang memakan tumbuhan.
Heterozigot : Mempunyai dua alel yang berbeda untuk suatu sifat genetik tertentu.
Heterosis : Suatu ukuran untuk menilai keunggulan dan ketidakunggulan hibrid
Hibrid : Turunan dari tetua yang secara genetik sangat berbeda, bahkan mungkin berlainan jenis atau marga.
Hibridisasi : Perkawinan antara individu yang berbeda atau persilangan.
Hipofisasi : Salah satu teknik dalam pengembangbiakan ikan dengan cara menyuntikkan ekstrak kelenjar hipofisa kepada induk ikan untuk mempercepat tingkat kematangan gonad.
Hipotalamus : Bagian ventral otak depan vertebrata, yang berfungsi dalam mempertahankan homeostasis, khususnya dalam mengkoordinasikan sistem endokrin dengan sistem saraf.
Histon : Protein kecil dengan porsi besar yang terdiri dari asam amino bermuatan positif yang berikatan dengan DNA bermuatan negatif dan berperan penting dalam struktur kromatinnya.
Homeostasis : Kondisi fisiologis yang mantap dalam tubuh.
Homozigot : Mempunyai dua alel yang identik untuk suatu sifat tertentu.
Hormon : Bahan kimia pembawa sinyal yang dibentuk dalam sel-sel khusus pada kelenjar endokrin. Hormon disekresikan ke dalam darah kemudian disalurkan ke organ-organ yang menjalankan fungsi-fungsi regulasi tertentu secara fisiologik dan biokimia.
Ikan transgenik : Ikan yang memiliki DNA asing didalam tubuhnya
Inaktivasi sperma : Menonaktifkan sperma
Inbreeding : Perkawinan antara individu-individu yang sekerabat yaitu berasal dari jantan dan betina yang sama.
Infeksi Retroviral : Salah satu metode transfer gen. Metode ini menggunakan gen-gen heterogen yang dimasukkan ke dalam genome virus dan dapat dipindahkan kepada inang yang terinfeksi virus tersebut.
Inkubasi : Masa penyimpanan
Interfase : Fase dimana tidak ada perubahan pada inti sel, waktu istirahat.
Karakter kuantitatif : Suatu ciri yang dapat diturunkan dalam suatu populasi yang bervariasi secara kontinu sebagai akibat pengaruh lingkungan dan pengaruh tambahan dua atau lebih gen.
Kariotipe : Metode pengorganisasian kromosom suatu sel dalam kaitannya dengan jumlah, ukuran dan jenis.
Katadromus : Ikan-ikan yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di perairan tawar dan bermigrasi ke laut untuk memijah.
Kelenjar hipofisa : Kelenjar kecil dibagian otak bawah yang menghasilkan berbagai macam hormon yang dibutuhkan pada makhluk hidup .
Kromosom : Struktur pembawa gen yang mirip benang yang terdapat di dalam nukleus.
Kopulasi : Proses perkawinan
Kista : Suatu stadia istirahat pada hewan cladosera atau crustacea tingkat rendah.
Larva : Organisme yang belum dewasa yang baru keluar dari telur atau stadia setelah telur menetas.
Larutan hipoklorit : Larutan yang mengandung HClO
Lokus : Tempat khusus disepanjang kromosom tertentu dimana gen tertentu berada.
Maskul;inisasi : Penjantanan.
Meiosis : Tipe pembelahan sel dan nukleous ketika jumlah kromosom direduksi dari diploid ke haploid.
Metasentrik : Kromosom yang sentromernya terletak ditengah-tengah.
Metafase : Tahapan mitosis dan meiosis ketika kromosom mencapai keseimbangan posisi pada bidang ekuator.
Metamormofose : Perubahan bentuk organisme dalam daur hidup
Mikropil : Lubang kecil pada telur tempat masuknya sperma.
Mikroinjeksi : Metode yang digunakan dalam mengintroduksi DNA asing ke dalam pronukleus atau sitoplasma telur yang telah terbuahi. DNA asing disuntikkan pada saat fase 1-2 sel.
Mitosis : Proses pembelahan nukleus pada sel eukariotik yang secara konvensional dibagi menjadi lima tahapan : profase, prometafase, metafase, anafase, dan telofase. Mitosis mempertahankan jumlah kromosom dengan cara mengalokasikan kromosom yang direplikasikan secara sama ke masing-masing nukleus anak.
Morula : Sekelompok sel anak (blastomer) yang terbentuk selama fase pembelahan zygot.
Nauplii : Bentuk stadia setelah menetas pada crustacea atau copepoda.
Neurohipofisa : Bagian dari kelenjar hipofisa, terdiri dari pars nervosa yang berfungsi mensekresi Oxytoxin, Arginin Vasotocin dan Isotocin
Omnivore : Organisme pemakan segala
Ovarium : Kelenjar kelamin betina yang menghasilkan ovum.
Ovipar : Berkembangbiak dengan menghasilkan telur.
Ovivipar : Berkembangbiak dengan menghasilkan telur tetapi telur tersebut menetas dalam  tubuh induknya.
Outbreeding : Perkawinan antara individu-individu yang tidak sekerabat (berbeda induknya), asih dalam satu varietas atau beda varietas.
Ovulasi : Proses terlepasnya sel telur dari folikel.
Partenogenesis : Perkembangbiakan telur menjadi individu baru tanpa pembuahan telur dan menghasilkan telur diploid.
Pemijahan : Proses peletakan telur atau perkawinan
Pigmen : Zat warna tubuh
Plasmid : Molekul DNA sirkular yang bereplikasi pada sel-sel bakteri secara independent.
Polar body : Sel telur hasil pembelahan meiosis yang tidak memiliki sitoplasma.
Profase : Tahap pertama meiosis dan mitosis ketika kromosom mulai jelas terlihat.
Progeni : Keturunan yang berasal dari sumber yang sama, anak cucu
Poliploidisasi : Proses pergantian kromosom dimana individu yang dihasilkan mempunyai lebih dari dua set kromosom.
Reproduksi : Proses perkembangbiakan baik secara aseksual maupun seksual.
Seleksi : Pemisahan populasi dasar yang digunakan ke dalam kedua kelompok, yaitu kelompok terpilih dan kelompok yang harus terbuang.
Sentromer : Bagian kromosom yang terletak pada titik ekuator kumparan pada metafase, tempat melekat benang penarik gelendong, posisi sentromer menentukan bentuk kromosom.
Seks reversal : Proses pembalikan kelamin dengan menggunakan metode tertentu.
Spermatogenesis : Proses perkembangan spermatogonium menjadi spermatis
Spermatogonium : Sel-sel kecambah untuk membentuk sperma
Spermatozoa : Sel gamet jantan dengan inti haploid yang ememiliki bentuk berekor.
Spermiasi : Proses dimana spermatozoa dilepaskan dari cyste dan masuk kedalam lumen.
Spermiogenesis : Proses metamorfosa spermatid menjadi spermatozoa
Submetacentrik : Sentromer terletak pada ujung kromosom yang memiliki dua lengan yang tidak sama panjangnya.
Subtelocentrik : Sentromer juga terletak pada ujung kromosom namun masih jelas terlihat adanya lengan pendek.
Spektrofotometer : Suatu instrumen yang mengukur porsi dari cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda yang diserap dan dihantarkan oleh suatu larutan berpigmen.
Telofase : Tahap akhir dari mitosis atau meiosis ketika pembagian sitoplasma dan penyusunan inti selesai.
Testis : Gonad yang berperan menghasilkan sperma
Tetraploid : Individu yang mempunyai empat perangkat kromosom haploid pada nukleusnya.
Triploid : Individu yang mempunyai tiga perangkat kromosom haploid pada nukleusnya.
Triploidisasi : Proses pembuatan organisme triploid dengan menggunakan kejutan suhu untuk menahan polar body II atau menahan pembelahan mitosis awal.
Vitellogenesis : Proses deposisi kuning telur, dicirikan oleh bertambah banyaknya volume sitoplasma yang berasal dari vitelogenin eksogen yang membentuk kuning telur.
Zygot : Sel diploid sebagai hasil perpaduan gamet jantan dan gamet betina haploid.
..
DAFTAR ISI untuk BUDIDAYA IKAN
DAFTAR PUSTAKA untuk BUDIDAYA IKAN
GLOSARI untuk BUDIDAYA IKAN
DAFTAR GAMBAR untuk BUDIDAYA IKAN
DAFTAR TABEL untuk BUDIDAYA IKAN
Selengkapnya tentang Budidaya Ikan klik disini

DAFTAR GAMBAR untuk BUDIDAYA IKAN

No. Judul Halaman
1.1. Ikan Mas (Cyprinus carpio)
1.2. Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
1.3. Ikan Gurami (Osphronemus gouramy)
1.4. Udang galah (Macrobrachium rosenbergii)
1.5. Ikan Patin (Pangasius hiphothalamus)
1.6. Ikan Bawal (Colosoma brachyponum)
1.7. Ikan Tawes (Puntius gonionotus)
1.8. Ikan Tambakan (Helostoma temmincki)
1.9. Ikan Sepat (Trichogaster pectolaris)
1.10. Ikan Kowan (Ctenopharyngodon idella)
1.11. Ikan Lele (Clarias sp)
1.12. Ikan Sidat (Anguilla sp)
1.13. Udang vanamei (Penaeus vannamei)
1.14. Ikan Bandeng (Chanos chanos)
1.15. Kerapu Merah (Plectopomus maculates)
1.16. Ikan Kakap putih (Lates calcarifer)
1.17. Ikan Kerapu (Chromileptes altivelis)
1.18. Ikan Betutu (Oxyeleotris marmorata)
1.19. Lobster Air Tawar (Cherax quadricarinatus)
1.20. Ikan Beronang (Siganus gutatus)
2.1 Kolam tanah
2.2 Kolam semiintensif
2.3 Kolam intensif
2.4 Kolam Pemijahan
2.5 Kolam Penetasan
2.6 Kolam Pemeliharaan
2.7 Kolam Pemberokan
2.8 Bak beton
2.9 Bak Fiber
2.10 Bak Plastik
2.11 Akuarium Kelompok
2.12 Akuarium sejenis
2.13 Akuarium Tanaman
2.14 Kolam jaring terapung tampak atas
2.15 Kolam jaring terapung tampak depan
2.16 Bentuk pematang trapesium sama kaki
2.17 Bentuk pematang trapesium tidak sama kaki
2.18 Kemiringan dasar kolam
2.19 Saluran tengah atau kemalir
2.20 Pintu pemasukan dan pengeluaran air di tengah
2.21 Pintu pemasukan dan pengeluaran air di sudut
2.22 Pintu pemasukan dan pengeluaran air bentuk L
2.23 Pintu pemasukan dan pengeluaran air system monik
2.24 Pemasukan dan pengeluaran air pipa paralon
2.25 Meletakkan lembaran kaca
2.26 Mengukur kaca
2.27 Memotong kaca
2.28 Menghaluskan bagian pinggir kaca
2.29 Lem silicon dan alat tembak lem
2.30 Penggunaan alat tembak lem
2.31 Lakban pada kaca
2.32 Mengeringkan akuarium
2.33 Kerangka jarring apung
2.34 Pelampung drum besi
2.35 Jangkar
2.36 Pola jarring
2.37 Pengeringan dasar kolam
2.38 Mengairi kolam
2.39 Sanitasi bak budidaya
3.1 Termometer
3.2 Secchi disk
3.3 Salinometer
3.4 Refraktometer
3.5 Flow meter
3.6 DO meter
3.7 pH meter
3.8 Kerta Lakmus
3.9 Planktonnet
3.10 Haemocytometer
3.11 Ekman Dredge
3.12 Spektrofotometer
4.1 Diagram skematik perkawinan dua tipe linebreeding
4.2 Induk ikan lele betina dan genital papilla
4.3 Induk ikan lele jantan dan genital papilla
4.4 Induk ikan mas betina dan genital papilla
4.5 Induk ikan mas jantan dan genital papilla
4.6 Induk ikan nila
4.7 Induk ikan patin jantan dan betina
4.8 Kanulasi induk ikan patin
4.9 Skema pengaturan sekresi hormone
4.10 Letak dan jenis kelenjar endokrin ikan dari arah depan
4.11 Mekanisme hormone steroid
4.12 Representasi diagram pada penempang sagital otak
4.13 Pengambilan kelenjar hipofisa
4.14 Penggerusan kelenjar hipofisa
4.15 Pemutaran alat sentrifuse
4.16 Pembuatan ekstrak kelenjar hipofisa
4.17 Pengambilan kelenjar ekstrak hipofisa
4.18 Penyuntikan ekstrak kelenjar hipofisa
4.19 Pemasangan kakaban dikolam pemijahan cara Sunda
4.20 Kolam pemijahan cara Cimindi
4.21 Kolam pemijahan cara Magek
4.22 Kolam pemijahan cara Kantong
4.23 Kolam pemijahan cara Dubish
4.24 Kolam pemijahan cara Hofer
4.25 Diagram susunan kolam pemijahan bersekat
4.26 Sampling benih ikan
4.27 Pengemasan benih
6.1 Disk mill
6.2 Hammer mill
6.3 Vertical mixer
6.4 Horizontal mixer
6.5 Alat penggiling daging
6.6 Alur proses pembuatan pakan skala pabrikasi
6.7 Silo
6.8 Alat pengukur kadar air
6.9 Peralatan pengukuran kadar protein
6.10 Peralatan pengukuran kadar lemak
6.11 Peralatan pengukuran kadar serat kasar
6.12 Peralatan pengukuran kadar abu
6.13 Metode pemberian pakan dengan tangan
6.14 Ametode pemberian pakan dengan demand feeder
7.1 Chlorella sp
7.2 Tetrasemis sp
7.3 Scenedesmus sp
7.4 Skeletonema costatum
7.5 Spirulina sp
7.6 Brachionus sp
7.7 Artemia salina
7.8 Moina sp
7.9 Daphnia sp
7.10 Paramecium
7.11 Tubifex sp
7.12 Erlemeyer
7.13 Cawan Petri
7.14 Jarum ose
7.15 Pipet kaca
7.16 Tabung reaksi
7.17 Mikroskop
7.18 Bak fiber
7.19 Aerator
7.20 Daphnia sp (bagian-bagian tubuh)
7.21 Kemasan cyst Artemia
7.22 Perkembangbiakan Artemia
7.23 Rotifera
7.24 Daur hidup rotifer
7.25 Tubifex
7.26 Daur hidup tubifex
8.1 Ichthyophthirius multifiliis
8.2 Siklus hidup Ichthyophthirius multifiliis
8.3 Trichodina tampak bawah
8.4 Trichodina tampak atas
8.5 Myxobolus sp
8.6 Myxosoma sp
8.7 Thellohanellus sp
8.8 Henneguya sp
8.9 Dactylogyrus sp
8.10 Gyrodactilus sp
8.11 Lernea sp
8.12 Argulus indicus tampak bawah
8.13 Saprolegnia sp
8.14 Achlya sp
8.15 Aeromonas sp
8.16 Mekanisme kerja mekanik
8.17 Penumpukan partikel pada media filter mekanik
8.18 Filter air
8.19 Dropsy pada ikan plati dan cupang
8.20 Dropsy tampak samping
8.21 Akumulasi cairan
8.22 Contoh kasus kelainan gelembung renang
8.23 Gejala umum ulcer
8.24 Ikan terserang white spot

DAFTAR TABEL untuk BUDIDAYA IKAN

No. Judul Halaman
1.1 Komoditas akuakultur yang sudah lazim dibudidayakan dalam system budidaya di Indonesia
2.1 Perbandingan antara ukuran akuarium dengan ketebalan kaca
2.2 Jenis pelampung dan lama pemakaian
2.3 Ukuran mata jaring yang digunakan berdasarkan ukuran ikan yang dibudidayakan
2.4 Perbandingan jumlah mata jarring yang harus dipotong dalam berbagai ukuran kantong jarring dan mata jaring.
2.5 Dosis kapur tohor (CaO)
3.1 Pengaruh suhu air terhadap respon konsumsi pakan
3.2 Hubungan antara kadar oksigen terlarut dan suhu
3.3 Pengaruh pH terhadap komunitas biologi perairan
3.4 Presentase ammonia bebas terhadap ammonia total
3.5 Kriteria kualitas air Golongan C
3.6 Parameter kualitas air untuk budidaya ikan dan peralatan pengukuran yang dapat digunakan
4.1 Perbandingan strategi, keuntungan dan kerugian dari seleksi individu (A), seleksi within family (B) dan seleksi between family (C)
4.2 Pengaruh silang dalam terhadap frekuensi genotype dan frekuensi alel dalam lokus
4.3 Ciri-ciri induk jantan dan betina ikan mas
4.4 Ciri-ciri induk jantan dan betina ikan mas matang gonad
4.5 Ciri-ciri induk jantan dan betina ikan nila
4.6 Dosis pengapuran untuk menetralkan dari berbagai
jenis tekstur tanah dan pH awal yang berbeda
4.7 Perkembangan stadia embrio ikan lele pada suhu 28oC
4.8 Lama pemeliharaan ikan mas berdasarkan sistem pemeliharaan
5.1 Kebutuhan energi untuk ikan Salmon
5.2 Kebutuhan energi untuk Catfish
5.3 Nama dan singkatan asam amino
5.4 Kebutuhan asam amino essensial pada beberapa jenis ikan dalam % protein pakan
5.5 Tingkat kebutuhan protein optimal (% berat kering pakan) pada beberapa jenis ikan budidaya
5.6 Klasifikasi karbohidrat
5.7 Nilai kecernaan karbohidrat berdasarkan kadar dan sumbernya oleh beberapa ikan budidaya
5.8 Kebutuhan optimum karbohidrat dalam pakan untuk pertumbuhan beberapa ikan budidaya
5.9 Nama umum asam lemak
5.10 Kelompok asam lemak unsaturated jenuh
5.11 Kebutuhan asam lemak essensial pada ikan
5.12 Komposisi asam lemak essensial pada berbagai sumber lipid (g/100 g asam lemak)
5.13 Penggolongan beberapa sumber vitamin A
5.14 Kebutuhan vitamin A beberapa spesies ikan budidaya
5.15 Kekurangan vitamin A pada beberapa jenis ikan
5.16 Kebutuhan vitamin D beberapa spesies ikan budidaya
5.17 Kebutuhan vitamin E beberapa spesies ikan budidaya
5.18 Kriteria respon ikan terhadap pemberian vitamin E sesuai dengan kebutuhan ikan budidaya
5.19 Gejala kekurangan vitamin E pada beberapa ikan budidaya
5.20 Kebutuhan tiamin dalam pakan
5.21 Tanda-tanda kekurangan tiamin A pada ikan budidaya
5.22 Kebutuhan vitamin B2 dalam pakan ikan
5.23 Tanda-tanda kekurangan riboflavin pada ikan budidaya
5.24 Kebutuhan vitamin B6 dalam pakan ikan
5.25 Tanda-tanda kekurangan piridoksin pada ikan budidaya
5.26 Kebutuhan vitamin B5 dalam pakan ikan
5.27 Tanda-tanda kekurangan asam pantotenat pada ikan budidaya
5.28 Kebutuhan biotin dalam pakan ikan
5.29 Tanda-tanda kekurangan biotin pada ikan budidaya
5.30 Kebutuhan asam folat dalam pakan ikan
5.31 Tanda-tanda kekurangan asam folat pada ikan budidaya
5.32 Kebutuhan vitamin B12 dalam pakan ikan
5.33 Tanda-tanda kekurangan vitamin B12 pada ikan budidaya
5.34 Kebutuhan Niasin dalam pakan ikan
5.35 Tanda-tanda kekurangan Niasin pada ikan budidaya
5.36 Kebutuhan inositol dalam pakan ikan
5.37 Tanda-tanda kekurangan inositol pada ikan budidaya
5.38 Kebutuhan Kolin dalam pakan ikan
5.39 Tanda-tanda kekurangan kolin pada ikan budidaya
5.40 Kebutuhan vitamin C dalam pakan ikan
5.41 Tanda-tanda kekurangan vitamin C pada ikan budidaya
5.42 Kebutuhan mineral makro dalam pakan pada berbagai jenis ikan air tawar (mg/kg atau g/kg berat kering)
5.43 Kebutuhan mineral mikro dalam pakan pada berbagai jenis ikan air tawar (mg/kg atau g/kg berat kering)
5.44 Kebutuhan zat besi pada beberapa jenis ikan
5.45 Kebutuhan mineral seng pada beberapa jenis ikan
5.46 Kebutuhan mangan pada beberapa jenis ikan
5.47 Kebutuhan mineral tembaga pada beberapa jenis ikan
6.1 Beberapa jenis ikan berdasarkan kebiasaan makannya
6.2 Kandungan nutrisi bahan baku nabati
6.3 Kandungan nutrisi bahan baku hewani
6.4 Kandungan nutrisi bahan baku limbah pertanian
6.5 Rekomendasi penggunaan bahan baku untuk pakan ikan dan udang dalam %
6.6 Jenis dan kandungan nutrisi bahan baku ikan karnivora
6.7 Hasil analisa proksimat bahan baku
6.8 Bahan baku pakan yang mengandung zat antinutrisi dan cara menghilangkan zat antinutrisi
6.9 Acuan bentuk dan tipe pakan buatan untuk ikan budidaya
6.10 Skedul pemberian pakan dalam usaha budidaya ikan
6.11 Skedul pemberian pakan pada udang
6.12 Jumlah pakan harian pudang dengan kelangsungan hidup 80%
7.1 Komposisi pupuk pada media stok murni kultur algae
7.2 Komposisi Trace Metal Solution
7.3 Komposisi pupuk pada phytoplankton air tawar
7.4 Komposisi pupuk phytoplankton semi masal
7.5 Komposisi pupuk kultur missal
7.6 Komposisi campuran vitamin pada media Dphnia
7.7 Komposisi bahan kimia untuk membuat air laut kadar garam 5 permill
7.8 Komposisi bahan kimia untuk membuat air laut kadar garam 30

DAFTAR ISI untuk BUDIDAYA IKAN
DAFTAR PUSTAKA untuk BUDIDAYA IKAN
GLOSARI untuk BUDIDAYA IKAN
DAFTAR GAMBAR untuk BUDIDAYA IKAN
DAFTAR TABEL untuk BUDIDAYA IKAN
Selengkapnya tentang Budidaya Ikan klik disini

Pemeliharaan dan pemanenan Phytoplankton PAKAN ALAMI Ikan

https://globalmuliaperkasa.com/depo-air-minum-isi-ulang-paket-lengkap-dan-istimewa.htmlPada subbab ini akan dibahas beberapa contoh dalam melakukan pemeliharaan dan pemanenan Phytoplankton antara lain adalah Cholrela, Tetraselmis dan Skeletonema costatum.

Chlorella

Penyiapan Bibit Phytoplankton PAKAN ALAMI Ikan
1. Alat-alat yang akan digunakan dicuci dengan deterjen, kemudian dibilas dengan larutan klorin 150 ppm
2. Dalam wadah 1 galon:
๔€ธ Menggunakan stoples atau botol โ€œcarboysโ€, slang aerasi, dan batu aerasi
๔€ธ Botol diisi medium ยฑ 3 liter, untuk Chlorella air laut menggunakan medium dengan kadar garam 15 permil, dan untuk Chlorella airtawar dapat menggunakan air tawar yang disaring dengan kain saringan 15 mikron
๔€ธ Air disterilkan dengan cara mendidihkan, klorinasi, atau penyinaran dengan lampu ultraviolet
๔€ธ Pemupukan dengan menggunakan ramuan Allen- Miguel, yang terdiri dari 2 larutan, yaitu: (1) Larutan A, terdiri dari 20 gram KNO3 dalam 100 ml air suling; (2) Larutan B, terdiri dari: 4 gram Na2HPO4.12H2O; 2 gram CaCl2.6H2O; 2 gram FeCl3; dan 2 ml HCl; semuanya dilarutkan dalam 80 ml air suling
๔€ธ Setiap 1 liter medium, menggunakan 2 ml larutan A dan 1 ml larutan B
3. Dalam wadah 60 liter atau 1 ton
๔€ธ Wadah dicuci dan dibebashamakan. Air untuk medium harus disaring. Medium dipupuk dengan jenis dan takaran: 100 mg/liter pupuk TSP, Urea sebanyak 10-15 mg/liter dan pupuk KCl sebanyak 10-15 mg/l
๔€ธ Untuk pertumbuhan dalam wadah besar (1ton) cukup menggunakan urea dengan takaran 50 gram/m3

Pemeliharaan Phytoplankton PAKAN ALAMI Ikan

1. Dalam wadah 1 galon :
๔€ธ Bibit ditebar dalam medium yang telah diberi pupuk, sampai airnya berwarna agak kehijau-hijauan. Bibit yang masuk disaring dengan saringan 15 mikron
๔€ธ Wadah disimpan di dalam ruang laboratorium di bawah penyinaran lampu neon, dan air diudarai terus-menerus
๔€ธ Setelah ยฑ 5 hari, Chlorella sudah tumbuh dengan kepadatan sekitar 10 juta sel/ml. Airnya berwarna hijau segar
๔€ธ Hasil penumbuhan ini digunakan sebagai bibit pada penumbuhan dalam wadah yang lebih besar.
2. Dalam wadah 60 liter atau 1 ton :
๔€ธ Untuk wadah 60 liter membutuhkan 1 galon bibit dan untuk wadah 1 ton membutuhkan 5 galon bibit
๔€ธ Selain dipupuk, dapat dilepaskan ikan mujair besar 4-5 ekor/m2 yang diberi makan pelet secukupnya, bertujuan sebagai penghasil pupuk organik dari kotorannya
๔€ธ Wadah disimpan dalam ruangan yang kena sinar matahari langsung
๔€ธ Setelah 5 hari pertumbuhan terjadi dan pada puncaknya dapat mencapai kepadatan 5 juta sel/ml
๔€ธ Secara berkala medium perlu dipupuk susulan, penambahanair baru, dan pemberian obat pemberantas hama

Pemanenan Phytoplankton PAKAN ALAMI Ikan

Chlorella dipanen dari perairan masal 60 l/ 1 ton dan dapat langsung diumpankan pada ikan.

Tetraselmis

Penyiapan Bibit
1. Dalam wadah 1liter
๔€ธ Dapat menggunakan botol erlenmeyer. Botol, slang plastik, dan batu aerasi dicuci dengan deterjen dan dibilas dengan larutan klorin 150 ml/ton
๔€ธ Wadah diisi air medium dengan kadar garam 28 permil yang telah disaring dengan saringan 15 mikron. Kemudian disterilkan dengan cara direbus, diklorin 60 ppm dan dinetralkan dengan 20 ppm Na2S2O3, atau disinari lampu ultraviolet
๔€ธ Medium dipupuk dengan jenis dan takaran sebagai berikut :
- Natrium nitrat โ€“ NaNO3 = 84 mg/l
- Natrium dihidrofosfat- NaH2PO4 = 10 mg/l atau Natrium fosfat- Na3PO4 = 27,6 mg/l atau Kalsium fosfat-Ca3(PO4)2 =11,2 mg/l
- Besi klorida โ€“ FeCl3 = 2,9 mg/l
- EDTA (Ethylene dinitrotetraacetic acid) = 10 mg/l
- Tiamin-HCl (vitamin B1) = 9,2 mg/l
- Biotin = 1 mikrogram/l
- Vitamin B12 = 1mikrogram/l
- Tembaga sulfat kristal CuSO4.5H2O = 0,0196 mg/l
- Seng sulfat kristal ZnSO4.7H2O = 0,044 mg/l
- Natrium molibdat- NaMoO4.7H2O = 0,02 mg/l
- Mangan klorida kristal- MnCl2.4H2O = 0,0126 mg/l
- Kobalt korida kristal- CoCl2.6H2O = 3,6 mg/l
2. Dalam wadah 1 galon (3 liter):
๔€ธ Dapat menggunakan botol โ€œcarboysโ€ atau stoples
๔€ธ Persiapan sama dengan dalam wadah 1 liter
๔€ธ Medium dipupuk dengan jenis dan takaran sebagai berikut :
- Urea โ€“ 46 = 100 mg/l
- Kalium hidrofosfat โ€“ K2HPO4 = 10 mg/l
- Agrimin = 1 mg/l
- Besi klorida โ€“ FeCl3 = 2 mg/l
- EDTA (Ethyelene Dinitro Tetraacetic Acid) = 2 mg/l - Vitamin B1 = 0,005 mg/l
- Vitamin B12 = 0,005 mg/l
3. Dalam wadah 200 liter dan 1 ton
๔€ธ Wadah 200 liter dapat menggunakan akuarium, dan untuk 1 ton menggunakan bak dari kayu, bak semen, atau bak fiberglass
๔€ธ Persiapan lain sama
๔€ธ Medium dipupuk dengan jenis dan takaran sebagai berikut :
- Urea-46 = 100 mg/liter
- Pupuk 16-20-0 = 5 mg/liter
- Kalium hidrofosfat- K2HPO4 = 5 mg/liter atau Kalium dihidrofosfat- K2H2PO4 = 5 mg/liter - Agrimin = 1 mg/liter
- Besi klorida-FeCl3 = 2 mg/liter
๔€ธ Untuk wadah 1 ton dapat hanya menggunakan urea 60 -100 mg/liter dan TSP 20 - 50 mg/liter

Pemeliharaan Phytoplankton PAKAN ALAMI Ikan

1. Dalam wadah 1liter : ๔€ธ Bibit ditebar dalam medium yang telah diberi pupuk sebanyak 100.000 sel/ml. Airnya diudarai terusmenerus dan wadah diletakkan dalam ruang ber- AC, dan di bawah sinar lampu neon
๔€ธ Setelah 4-5 hari telah berkembang dengan kepadatan 4 - 5 juta sel/ml. Hasilnya digunakan sebagai bibit pada penumbuhan berikutnya
2. Dalam wadah 1 galon (3 liter) :
๔€ธ Bibit dari penumbuhan dalam wadah 1 liter, ditebar dalam medium yang telah diberi pupuk, untuk setiap galon membutuhkan bibit 100 ml, hingga kepadatan mencapai 100.000 sel/ml
๔€ธ Wadah ditaruh di dalam ruangan ber-AC, di bawah lampu neon, dan airnya diudarai terus-menerus
๔€ธ Setelah 4-5 hari telah berkembang dengan kepadatan 4-5 juta sel/ml. Hasilnya digunakan sebagai bibit pada penumbuhan berikutnya
3. Dalam wadah 200 liter dan 1 ton
๔€ธ Wadah 200 liter membutuhkan 3 galon bibit, sedangkan wadah 1 ton 100 liter
๔€ธ Dalam waktu 4-5 hari mencapai puncak perkembangan dengan kepadatan 2-4 juta sel/ml
๔€ธ Hasil penumbuhan di wadah 200 ton digunakan sebagai bibit untuk penumbuhan di wadah 1 ton, sedangkan dari wadah 1 ton dapat digunakan sebagai pakan

Pemanenan PHYTOPLANKTON PAKAN ALAMI Ikan

Cara pemanenan langsung diumpankan dan diambil dari budidaya masal 1 ton. Kultur Skeletonema costatum dalam gelas erlemeyer 1 liter
1. Gelas erlemeyer, selang dan batu aerasi dibersihkan dengan cara dicuci bersih dengan deterjent kemudian dibilas dengan Chlorin 150 ppm (150 ml chlorine dalam 1000 liter air)
2. Siapkan larutan pupuk A,B,C dan D. Larutan pupuk A adalah campuran antara 20,2 g KNO3 dengan 100 cc aquadest. Larutan pupuk B adalah campuran antara 2,0 g Na2HPO4 dengan 100 cc aqudest. Larutan pupuk C adalah campuran antara 1,0 g Na2SiO3 dengan 100 cc aqudest. Larutan D adalah 1,0 g FeCl3 dengan 20 cc aquadest.
3. Perbandingan antara air laut dengan pupuk adalah 1 liter air laut diberi larutan A, B, dan C masing-masing 1 cc dan 4 tetes larutan D.
4. Masukkan air laut yang telah disterilisasi dan dicampur dengan pupuk kedalam wadah sebanyak 300 โ€“ 500 cc dan ukur kadar garamnya, kadar garam (salinitas) yang baik untuk kultur Skeletonema costatum adalah 28 โ€“ 35 ppt
5. Tebar bibit Skeletonema costatum dengan padat penebaran (N2) sekitar 70.000 sel per cc. Volume Skeletonema costatum yang dibutuhkan untuk penebaran (V1) dapat dihitung dengan rumus :
N2 X V2 V1 = (dalam cc atau liter) N1 



dimana :
V1 : Volume Skeletonema costatum yang diperlukan untuk penebaran
V2 : Volume kultur Skeletonema costatum yang dibuat dalam gelas erlemeyer
N1 : Jumlah Skeletonema costatum per cc yang akan ditebar
N2 : Jumlah Skeletonema costatum per cc yang dikehendaki dalam penebaran ( dalam hal ini misalnya ditentukan yaitu 70.000 sel per cc)

Makin tinggi jumlah N2 makin cepat kultur ini mencapai kepadatan maksimal , oleh karena itu dalam menentukan besarnya N2 harus perlu dipertimbangkan pemenfaatannya. Dengan kepadatan awal 70.000 sel diharapkan dalam waktu 3 โ€“ 4 hari sudah mencapai puncaknya dan siap dipanen.
6. Aerasi dipasangkan kedalam wadah budidaya yang bertujuan untuk meningkatkan kandungan Oksigen yang diperlukan dalam proses metabolisme dan mencegah pengendapan plankton.
7. Botol kultur diletakkan dibawah cahaya lampu neon (TL) sebagai sumber energi untuk fotosintesa.
8. Dalam waktu 3 โ€“ 4 hari perkembangan diatom mencapai puncaknya yaitu 6 โ€“ 7 juta sel per cc dan siap untuk dipanen dan dapat digunakan sebagai bibit pada budidaya skala semi massal

Cara Menghitung Kepadatan Phytoplankton

1. Teteskan alga diatas permukaan gelas preparat dibagian tengah, kemudian tutup dengan gelas penutup maka air akan menutupi permukaan gelas yang bergaris. Luas permukaan yang bergaris adalah 1 mm persegi dan tinggi atau jarak cairan alga antara permukaan gelas bagian tengah dan gelas penutup juga diketahui yaitu 0,1 mm , maka volume air diatas permukaan bergaris sama dengan 1 mm2 X 0,1 mm = 0,1 mm3 (0,0001 cm3).
2. Hitunglah jumlah plankton yang terdapat dalam kotak dan lakukan perhitungan :
๔€ธ Jika dihitung dalam 400 kotak: Jumlah sel X 10.000/ml
๔€ธ Jika dihitung hanya beberapa kotak : rata-rata jumlah sel/kotak X 400 kotak X 10.000/ml

Peralatan Budidaya Phytoplankton PAKAN ALAMI Ikan  

Selengkapnya tentang BUDIDAYA PHYTOPLANKTON PAKAN ALAMI Ikan klik disini
Metode media agar kultur murni phytoplankton PAKAN ALAMI Ikan  


Selengkapnya tentang  
Perikanan : TEKNOLOGI PRODUKSI PAKANALAMI Ikan klik disini.

DAFTAR SINGKATAN Bidang TEKNIK PENGELASAN

https://pagar.omasae.com/2019/07/jasa-pembuatan-tangga-putar-sidoarjo.htmlDAFTAR SINGKATAN Bidang TEKNIK PENGELASAN
AC............................................................................... (Alternating Current)
DC........................................................................................ (Direct current)
DT...............................................................................(Destructive Testing)
DCEP..................................................... (DirectCurrent Electrode Positive)
DCEN.................................................... (Direct Current Electrode Negative
DCRP........................................................(DirectCurrent Reserve Polarity)
DCSP......................................................... (Direct Current Straight Polarity
DIN.................................................................(Deutsche Industrie Normen)
FCAW................................................................(Fluxs Cored Arc Welding)
GMAW..................................................................(Gas Metal Arc Welding)
GTAW............................................................. (Gas Tungten Arc Welding )
ISO.................................... (International Organization for Standardization)
LPG .......................................................................... (Liquit Petrolium Gas)
LNG..............................................................................(Liquit Natural Gas)
MAG .............................................................................. (Metal Active Gas)
MIG................................................................................... (Metal Inert Gas)
NC.................................................................................(Numerical Control)
NDT .................................................................... (Non Destructive Testing)
PQR.........................................................(Procedure Qualification Record)
SAW ...................................................................(Submerged Arc Welding)
SMAW .......................................................... (Shielded Metal Arc Welding)
TIG..............................................................................(Tungsten Inert Gas)
V ................................................................................................... (Voltage)
WPS............................................................ (Welding Procedure Standard)
AWS ................................................................(American Welding Sosaity)
JIS ....................................................................(Japan Industrial Standard)
ASTM.............................................(American Sosiety for Testing Meterial)
ASME .................................. (American Sosiety for Mechanical Engineers)
AWS ................................................................(American Welding Sosiety)
ABS...........................................................(American Bureau of Shipping )
HAZ ............................................................................(Heat Affected Zone)
DNV..............................................................................(Det Norske Veritas
NKK............................................................................(Nippon Kaiji Kyokai)
BKI.....................................................................(Biro Klasifikasi Indonesia)
QC .....................................................................................(Quality Control)
QA ............................................................................... (Quality Assurance)
NCR......................................................................(Non Conformity Report)
QCD......................................................................... (Quality Cost Delivery)
PCCL............................................................. (Process Control Check List)

WES......................................................... (Welding Engineering Standards
HAZ ............................................................................(Heat Affected Zone)
PWHT............................................................. (Post Weld Heat Treatment)
UT.................................................................................(Ultrasonic Testing)
RT............................................................................(Radiographic Testing)
PT ................................................................................. (Penetrant Testing)
VT ............................................................................................(Visual Test)
PRT.................................................................. (Pressure Resistance Test)
LT ..............................................................................................(Leak Test)
SNI................................................................ (Standar Nasional Indonesia)
WI .................................................................................(Welding Inspector)
WE................................................................................ (Welding Engineer)

DAFTAR GAMBAR Bidang TEKNIK PENGELASAN
DAFTAR TABEL Bidang TEKNIK PENGELASAN
DAFTAR PUSTAKA Bidang TEKNIK PENGELASAN
DAFTAR ISTILAH Bidang TEKNIK PENGELASAN
DAFTAR SINGKATAN Bidang TEKNIK PENGELASAN
DAFTAR RUMUS Bidang TEKNIK PENGELASAN
==================================


Selengkapnya tentang Kemajuan Teknologi Pengelasan dan tentang Pengertian Ilmu Logam dan Macam klik disini
-